Lebih Mudah Menghadap Tuhan ?

17 Nov 2008

Menghadap, menemui seseorang adalah hal biasa dalam kehidupan sehari-hari, misalnya menghadap seorang pemimpin, baik di Pemerintahan atau Wiraswasta untuk menyampaikan sesuatu hal atau sebuah harapan. Sesuatu hal atau sebuah harapan itu, bisa berupa sebuah permohonan atau sebuah laporan dan lain-lain sebagainya.

Namun tidaklah mudah bisa menjumpai orang-orang penting itu, meskipun mereka juga manusia biasa. Sebagai ilustrasi, kalau menghadap pak RT atau pak RW memang lebih mudah dibandingkan menghadap Lurah atau Camat.

Beda lagi tingkat kesulitan kalau menghadap Bupati atau Gubernur atau pembesar lainnya seperti Menteri Negara atau Presiden umpamanya, disitu ada hambatan seperti daftar tamu, protokoler, sekuriti, acara pribadi dan sebagainya.

Contoh lain, terkadang kendala sama tetapi tak serupa juga dialami oleh para mahasiswa yang ingin menghadap dosen pembimbing tugas akhir kesarjanaannya, sang dosen susah ditemui karena tidak ada di kampus sedang dinas luar menggarap proyek. Atau seorang pimpinan proyek yang batal menghadap direkturnya, disebabkan sang bos sedang meeting di sebuah hotel berbintang.

Begitulah, kalau ingin menghadap orang penting, tidak bisa leluasa menentukan waktu dan tempat, terkadang harus membuat perjanjian dulu serta harus antri. Itulah yang kira-kira yang terjadi, padahal itu merupakan hubungan antara sesama manusia .

Tatkala kita hendak menghadap Tuhan, haruskah dengan susah payah dan pakai antri segala? Hai anak Adam, jika kamu ingin menghadap Tuhanmu, kau dapat melakukannya tanpa meminta izin terlebih dahulu dan tanpa perantara siapapun!

Caranya, dengan menyempurnakan wudhumu dan memasuki mihrabmu. Saat itu, engkau telah berhadapan dengan Tuhanmu tanpa permintaan izin apa pun,dan engkau dapat berbicara pada-Nya tanpa perantara siapapun. (dari buku Rahasia-Rahasia Shalat, terjemahan Muhammad Al Baqir dari Asrar Ash-Shalah wa Muhimmatuha karya Al-Ghazali) .

Dijelaskan bahwa pengertian Shalat, menurut bahasa adalah berdoa. Sedangkan menurut syara berarti : menghadapkan jiwa dan raga ke hadirat Allah SWT (sebagai bentuk pengabdian) dalam bentuk perkataan dan perbuatan yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam (sesuai syarat-syarat yang telah ditentukan).

Pada awal mendirikan shalat, tatkala membaca Doa Iftitah kita membuat pernyataan kepada Allah SWT : Aku telah menghadapkan wajahku kepada Tuhan yang telah menciptakan langit dan bumi, dengan ikhlas tunduk berserah diri, dan tidaklah aku termasuk orang2 yang musyrik .(dst). >>>

Sepanjang bacaan Doa Iftitah, kita merasa berjumpa dengan Allah SWT, berhadapan langsung dengan-NYA. Rasulullah SAW bersabda dalam Hadist Qudsi bahwa Allah SWT berfirman : Apabila hamba-Ku mendekat kepada-Ku sejengkal maka Aku mendekat kepadanya sehasta, bila ia mendekat kepada-Ku sehasta maka Aku mendekat kepadanya sedepa, dan bila ia datang kepada-Ku dengan berjalan maka Aku datang kepadanya dengan berlari.(dari buku Panduan Latihan Shalat Khusuk oleh Drs.H.Muchyar Hardi )

Masya Allah, alangkah dekatnya Tuhan dan demikian mudahnya melaksanakan shalat, dalam rangka menghadap Allah SWT, orang yang sedang sakitpun dapat melakukan shalat. Bagi yang sakit tak mampu berdiri dapat melakukannya sambil duduk, jika tak mampu duduk boleh dikerjakan sambil terlentang atau berbaring (sesuai syarat-syarat yang telah ditentukan).

Namun, bisa atau pantaskah secara kasat mata akal pikiran manusia, menghadap kepada Tuhan Yang Maha Besar di bandingkan dengan menghadap Orang Besar? Kalaulah perbandingan itu sebagai tolakukur, dapat disimpulkan bahwa lebih mudah menghadap Tuhan Yang Maha Besar dari pada menghadap Orang Besar.

Sebab dengan cara mendirikan shalat, kita dapat langsung menghadap Tuhan tanpa perantara, seperti protokoler umpamanya serta tidak di awasi sekuriti dan bebas daftar tamu, bahkan tempatnya kita pilih sendiri sesuka hati, serta tidak perlu antri.


TAGS


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post